Cerita Dewasa – Mencicipi Vagina Perawat Binal

3522 views
Agen Betting Terpercaya Obat Pembesar Penis

Cerita Dewasa – Mencicipi Vagina Perawat Binal | Sebut saja nama saya Algi. Ceritanya saat itu saya telah nyaris satu minggu sakit kepala, tidak seperti sakit kepala umumnya, saya cemas sakit kepala saya ini semacem vertigo lantaran sakitnya yang beneran tidak nahan. Alhasil, saya sangat terpaksa ke dokter buat check. Ya walau situasi kantong tidak mencukupi, namun kesehatan kan nomor satu :

Cerita Dewasa - Mencicipi Vagina Perawat Binal cerita dewasa - mencicipi vagina perawat binal Cerita Dewasa - Mencicipi Vagina Perawat Binal sora aoi naked artis jepang bugil telanjang ngentot memek kontol tante cantik spong oral sex seksi sexy bikiniCerita Dewasa – Mencicipi Vagina Perawat Binal | Buat meriksain sakit saya itu, saya datengin RSUD kota saya yang jaraknya tidak terlampau jauh dari tempat tinggal. Ya umum deh yang namanya RSUD, pasti rame, penuh serta ngantri bukanlah kepalang seperti ingin ngambil beras murah. Namun aktivitas ngantri saya sedikit lebih mengasyikkan waktu ini lantaran pas di depan saya duduk, yaitu meja resepsionis tempat tinggal sakit yang dibaliknya ada perawat yang lumayan cantik. Tadi sih cocok saya daftar buat berobat, saya teliti namanya, Risty.

Cerita Dewasa – Mencicipi Vagina Perawat Binal | Perawat Risty itu penampilannya umum saja lantaran masih tetap pakai seragam perawat putih komplit dengan topi kecilnya yang nempel di atas kepalanya. Kulitnya putih, rambutnya hitam pekat, tubuhnya lumayan sintal. Saya tidak dapat bayangin banyak lantaran saya tidak dapat simak pacar semua tubuh.

Cerita Dewasa – Mencicipi Vagina Perawat Binal | Seputar 30 menit nunggu, sembari liatin perawat Risty yang lucu, tau-tau nama saya di panggil dokter untuk masuk ke ruang buat di check. Bergegaslah saya masuk ke ruang. Dokter yang meriksa saya cowok, telah tua, ngomongnya saja tidak terang. Agar demikian, tetep saja yang saya pikirin hanya Risty yang di depan tadi. Duh, bagaimana ya langkahnya ngajak pacar kenalan? Demikian yang saya pikirin sepanjang lagi di check si dokter.
Tidak sampai lima belas menit saya di check, sesudah dokter ngasih resep, segera saya keluar. Saat sebelum saya pulang serta tidak menyia-nyiakan peluang, saya samperin saja meja Risty dengan modal sebagian pertanyaan asal.
“Mbak, ingin bertanya dong. Itu bila ingin nebus resep obat dari dokter itu di mana ya? ” bertanya saya, walau sebenarnya saya tau apotek tempat tinggal sakit ini di mana.
Risty yang tengah repot menulis di buku besar ini juga kaget dengan saya yang ajukan pertanyaan dengan mendadak.
“Oh, Mas keluar saja melalui pintu ini. ” Sembari menunjuk pintu di belakang saya, “ Lantas belok ke kiri. Di ujung lorong, mas saksikan di samping kanan, ini apoteknya mas. ” Terang Risty.
“Oh gitu ya, Mbak? ” Jawab saya, saya sok mikir jalan ke apotek, walau sebenarnya saya lagi mikirin buat nanya terlebih.
“Kalau tempat tinggal mbak, arahnya kemana? ” Bertanya saya ngasal sembari nyengir.
Risty jadi tersenyum kecil. Senyumnya bener bener manis serta buat saya deg-degan gan.
“Rumah saya jauh, Mas. Sulit dijelasinnya, hehehe. ” Jawab suster Risty sembari terkekeh kekeh.
“Terus bila jauh, Mbak pulangnya bagaimana? Ada yang jemput? ” Bertanya saya lagi.
Masih tetap dengan melempar senyum manisnya, Risty menjawab “Biasa sih naik angkot mas, 2 x ubah. Tidak sulit kok. ”
“Oh gitu. Memang mbak pulang jam berapakah? Bila saya anter pulang, ingin tidak? ” Sesudah nanya itu, saya baru ngerasa saya nekat banget. Namun ya, jika juga dia tidak ingin, besok juga tidak bakal ketemu lagi, jadi saya tidak bakal malu malu sangat.
“Ah, Mas mungkin. Kelak merepotkan, Mas. Mas juga kan lagi sakit. ”
“Udah sehat kok, Mbak. Mulai sejak tadi simak Mbak pertama kalinya. Hehehe. ” Jawab saya dengan sedikit gombal.
Risty tak menjawab, cuma lihat catatan yang ada di mejanya sebentar lantas berkata, “Kalau ingin, saya kelak pulang jam lima sore mas. ” Jawab Risty sembari memberi suatu kertas kecil pada saya. “Mas pulang saja dahulu, istirahat dirumah. ”
Demikian saya saksikan, nyatanya yang dituliskan di situ yaitu nomor telephone. Wah, jalan bagus nih. Demikian pikir saya. Selekasnya saya pulang dengan perasaan suka bercampur salah tingkah lantaran bingung tidak tau kelak mesti bagaimana cocok ketemu Risty.
Saya segera nyodorin tangan saya ke Risty. “Aku Algi… ” Ucap saya buat kenalan.
“Risty, Mas… ” Jawab Risty sembari menjabat tangan saya.
Singkat narasi, sore ini saya telah parkirin motor saya di RSUD buat nunggu Risty. Dari jauh saya simak Risty jalan keluar dari gedung tempat tinggal sakit masih tetap dengan seragamnya, cuma ditambah sweeter berwarna abu-abu serta ransel kecil yang disangkutkan di bahunya.
Risty melemparkan senyum manisnya demikian lihat saya yang berdiri disamping motor saya.
“Sudah lama ya, Mas? Maaf ya bikin menanti… ” tutur Risty sopan.
“Enggak kok, baru sebentar hehehe. ” Jawab saya sembari menyodorkan helm untuk dipakai Risty. Selekasnya Risty menggunakan helm itu.
“Mau segera pulang? Atau ingin kemana dahulu? ”
“Hmm, terserah mas saja. Saya tidak cepat-cepat kok. ” Jawabnya pelan.
“Kalau makan dahulu, bagaimanakah? ” Bertanya saya.
Risty cuma mengangguk. Selekasnya saya nyalakan motor serta pergi mencari makan.
Sesampainya di tempat makan, sangat banyak hal yang kita bicarakan. Dari mulai masalah pekerjaan, hingga kehidupan pribadi.
Dari percakapan itu, saya temui nyatanya Risty itu baru putus dengan kekasihnya dua bln. waktu lalu serta bekas pacarnya itu saat ini telah menikah dengan wanita lain. Saya tidak nyangka, wanita secantik Risty itu dapat ditinggal untuk wanita lain.
Hari makin sore serta gelap, yang nyatanya juga mendung. Kami berdua mengambil keputusan untuk pulang saat sebelum hari hujan. Risty menuturkan arah serta jalan ke tempat tinggalnya yang nyatanya saya cukup hapal daerah itu. Saya selekasnya meningkatkan motor bebek saya melalui jalan tikus yang saya tau agar dapat cepat hingga.
Sebagian ratus mtr. saat sebelum hingga, tanpa ada di beri aba-aba hujan deras selekasnya turun. Terlampau dekat buat neduh dahulu. Pada akhirnya saya terobos saja ujannya walau baju saya serta suster Risty juga basah kuyup.
“Duh, Mas. Terima kasih banyak ya telah ingin antar saya hingga kehujanan. Maaf merepotkan ya, Mas. ” Kata Risty demikian telah tiba di depan tempat tinggalnya. Tempat tinggalnya tak terlampau besar, tampak asri dengan adanya banyak tanaman dibagian teras juga cat berwarna hijau yang menaikkan kesan menentramkan.
“Gak permasalahan kok. Saya yang mohon maaf lantaran naik motor sama saya, anda jadi kehujanan… ” Kata saya sembari meringis kedinginan.
“Mas, singgah dahulu yuk. Saya buatkan teh hangat serta pinjamkan baju buat mas. Janganlah dipaksa pulang, kelak jadi lebih sakit. ”
“Gak usah ah, tidak enak ah sama orang tempat tinggal… ” Jawab saya basa-basi.
“Tidak apa, Mas. Lagi juga saya tinggal sendiri. Yuk, mas. Input motornya. ” Kata Risty sembari membukakan pagar tempat tinggalnya.
Saya juga mengambil keputusan untuk singgah sebentar sembari menanti hujan reda. Risty memersilahkan saya untuk duduk di ruangan tamunya yang kecil tetapi bersih serta teratur rapi.
“Duduk dahulu mas, sebentar saya hambilkan anduk ya mas… ” Kata Risty sembari berlalu ke.
Saya lalu duduk sembari lihat saksikan, terdapat banyak photo saat Risty wisuda. Tampak cantik sekali dengan kebaya serta toga. Juga terdapat banyak photo yang kelihatannya yaitu orangtua Risty disamping photo wisudanya.
“Ini mas, handuknya… ” Risty mencengangkan saya dengan memberi handuk berwarna biru tidak tipis untuk saya mengeringkan tubuh. “Ini ada kaos mempunyai bekas saya dahulu, tidak terlampau bagus, namun kelihatannya muat buat mas… ”
“Iya, terima kasih ya. Oia, panggil Algi saja ah. Janganlah mas. Sepertinya usia kita tidak jauh beda. Hehehe. ” Kata saya sembari mengambil kaos dari tangan suster Risty.
“Hehehe iya, Algi. ” imbuhnya.
Saya juga bergegas ke kamar mandi untuk bertukar baju. Sesudah usai, saya akan kembali pada ruangan tamu. Waktu melalui satu diantara ruang, saya saksikan pintu yg tidak tertutup rapat. Maksud hati mau tutup pintu itu walau saya tidak paham ini kamar atau ruang apa. Kaget saya demikian saya saksikan nyatanya didalamnya Risty tengah bertukar baju.

Risty yang terlihat cantik walau badannya terbalut seragam kerja, tampak semakin cantik tanpa ada busana. Rambut hitam lurus sepunggung membuatnya terlihat lebih anggun. Badannya yang putih sintal, pantatnya yang kencang serta payudara yang demikian menantang, bikin saya betul-betul segera berpikiran kotor. Celana saya juga makin tidak nyaman lantaran batang yang semakin mengeras. Cemas Risty tau saya ngintip, selekasnya saya balik ke ruangan tamu.
Saya segera duduk di sofa yang ada di ruangan tamu. Berupaya tenang serta sebisa-bisanya tidak salah tingkah lantaran yang saya simak baru saja.
Risty kembali dari kamar. Kenakan pakaian barong Bali berwarna ungu, dengan hotpants berwarna coklat tua dengan handuk yang melilit di kepalanya sembari membawa gelas diisi teh hangat.
“Ini Gi diminum dahulu… ” Kata Risty menyuguhkan minum, sembari duduk disamping saya.
“Iya, terima kasih ya Risty… ” Jawab saya tersipu malu.
Saya ambillah gelas serta minum teh sedikit. Coba-coba mencari bahan perbincangan walau yang saya bayangin hanya Risty yang lagi saya entotin dengan liar.
“Hmm, Algi tadi ngintipin saya ya? ” Bertanya Risty.
DHEG! Kaget bukanlah kepalang, saya bingung harus jawab apa.
“Ah? Tidak kok, memang tadi anda di mana? ”
“Di kamar, telah Gi, saya tahu kok. Tadi saya saksikan bayangan anda dari meja rias saya. Anda ngintip saya kan? ” Selidik Risty dengan suara sedikit lebih tinggi.
Saya tertunduk malu, bingung serta tidak tau harus ngomong apa.
“Iya, Ty. Maaf ya, tadi tidak berniat. Tujuannya ingin nutup pintu, eh jadi jadi ngintip…. ” Jawab saya masih tetap sembari tertunduk.
Saya tidak berani simak muka Risty, sampai tau tau dia ngegeser duduknya agar semakin deket sama saya.
“Terus, hanya nginitip saja? Tidak ingin yang lain? ” Bisik Risty di telinga saya.
Kontan aliran darah saya segera kenceng ke semua tubuh. Yang semula kerasa dingin, mendadak segera panas.
Saat itu juga tanpa ada basa basi saya lumat bibir mungil Risty. Tangan kanan saya narik kepalanya agar ciuman kita makin kuat serta dekat. Nafas Risty segera kenceng tidak teratur. Risty lantas narik handuk yang ada di kepalanya serta ngelemparnya ke lantai.
Ciuman saya turunin ke leher Risty. Segera saja Risty mengangkat kepalanya ke atas, seolah minta saya buat nikmatin lehernya tidak ada yang kesisa. Baju barong Bali nya yang longgar, bikin saya makin leluasa untuk memasukan tangan serta ngeremes payudaranya yang telah dari tadi saya beberapa tunggulah.
“Hmm, uhhhh Algi, pelan-pelan… ” Desah Risty.
Desahan Risty malah bikin saya makin terangsang serta ingin nikmatin tubuhnya tanpa ada bekas. Saya angkat pakaiannya, serta buka kaitan bra-nya dengan sekali tarik. Saat ini dua payudara bulat menantang yang tadi saya liatin dari jauh doang, telah siap buat saya nikmatin sampai senang.
Tidak pakai nunggu lama, saya hisap putingnya sembari saya remes yang sampingnya. Desahan Risty makin jadi. Tanpa ada diakuin, satu tangannya narik rambut saya cukup keras.
“Uuuhhhh, Algiiiii. Enak Giiii…. ” Erang Risty.
Senang meremas payudaranya, tangan saya berupaya untuk ngebuka celana Risty. Serta tanpa ada butuh banyak usaha, lantaran Risty juga tampak telah nafsu membara, suster cantik yang saya simak tadi siang di meja resepsionis, saat ini telah telanjang bulet tanpa ada sehelai benang juga di depan saya, minta buat saya puasin.
Tangan saya dengan lembut ngusap rambut halus yang ada diantara selangkangan Risty. Keliatannya cukup dirawat dengan baik. Kerasa telah semakin basah dari dalam mekinya Risty. Saya selipin tangan saya di antara bibir mekinya, cari klitoris agar Risty semakin mengerang serta kejang lantaran nikmat duniawi yang mungkin saja telah lama dia tidak rasain lagi.
Sebagian menit saya asyik ngorek meki Risty dengan jari saya, Risty narik rambut saya semakin kenceng.
“Arrrghh, Algi, saya keluar argggghhh saya keluarrrr…. ” jerit Risty kecil. Merasa ada cairan hangat dari dalam lobang kesenangan Risty. Saat ini Risty keliatan lelah serta sedikit terengah-engah. Tubuhnya penuh keringet, meskipun di luar hujan deras, namun ruangan tamu itu merasa semakin panas.
Risty yang memejamkan mata sembari coba mengatur nafas lalu ngeliat ke arah saya.
“Kamu kok pinter banget sih, Gi? Baru pakai jari saja saya telah lelah. Bagaimana lagi bila gunakan itu? ” Kata Risty sembari tangannya mencapai konti saya yang masih tetap ada di dalam celana. Dengan gesit, ia buka kancing serta reseleting celana saya. Dikeluarkan batang kemaluan saya dari dalam sarangnya. Dengan tangan yang masih tetap ngeremes konti saya, lidah Risty segera dijulurin ke ujung konti saya.
Demikian cepet hingga konti saya masuk seluruhnya ke mulut Risty. Dengan pelan tetapi penuh gairah, ia naik turunin kepalanya agar konti saya yang ada didalam mulutnya merasakan nikmat tidak ada tara. Bener bener permainan yang ajib dari suster yang saya sangka kalem itu.
Waktu saya masih tetap asyik nikmatin sepongan dahsyat Risty, dia ngeluarin konti saya dari mulutnya. Tangannya masih tetap ngeremes pelan konti saya, namun dia bangun serta coba buat duduk diatas saya.
“Kamu ada kondom tidak, Gi? ” Bisik Risty sembari mengeluskan konti saya ke bibir mekinya.
Tanpa ada ngejawab, saya segera ambillah di tas kondom berwarna item yang saya simpen buat beberapa jagalah. Lantaran sesuai sama kepribadian saya. Keliatan muka Risty seneng banget demikian saya ngeluarin kondom. Di ambil kondom dari tangan saya sembari mencium bibir saya. Sejurus lalu dirobek bungkus kondomnya serta dipasangkan di konti saya dengan telaten.
Sesudah kepasang, Risty semakin siap buat masukin konti saya ke mekinya. Saya hanya duduk sembari ngeliat apa yang dia lakukan ke konti saya serta bagaimana muka dia setiap saat konti saya nyentuh mekinya.
Mata yang merem melek, serta desahan pelan cocok konti saya masuk sedikit untuk sedikit ke meki Risty. Mekinya basah banget, namun merasa sempit, mungkin saja lantaran telah lama tidak ada konti yang masukin.
Konti saya telah masuk seluruhnya ke dalam meki Risty. Ke-2 tangan dia ngelingker di leher saya, serta tangan saya megangin pinggul Risty sembari bantu tubuhnya naek turun diatas pangkuan saya.
“Aaahhh, Algiiii, aaahhhhh yess aarrgghhh…. ” Hanya ini yang keluar dari mulut Risty yang keliatan nikmatin banget konti saya di dalam mekinya.
Saya cobalah buat lebih konsentrasi untuk sembari ngeremes serta ngisep puting payudara Risty yang daritadi berayun naik turun. Cocok putingnya masuk ke mulut saya, automatis kocokan Risty cuma dari panggulnya, tubuhnya dilewatkan diem agar gue dapat senang nikmatin toketnya waktu dia lagi asyik nikmatin konti saya.
Nyaris lima belas menit saya diposisi demikian, saya gagasan buat ubah posisi. Saya tujukan Risty buat ubahan duduk serta buka lebar kakinya. Saya taro ke-2 kakinya di pundak saya, serta tangan saya yang telah siap ngeremes dua gunung cantik di dada Risty. Konti saya masukin lagi pelan-pelan ke dalam meki Risty sembari tangan pelan-pelan mulai remes payudara Risty.
Kesempatan ini desahan Risty semakin keras serta semakin meracau tidak terang.
“Arrggg, Algiii, masukin selalu Giii, saya punya ahhh anda Giii arrrgggghhh” Teriak Risty demikian terlepas.
Saya juga genjot semakin cepet, sesekali saya kasih ciuman ke bibir Risty agar semakin romantis tetapi tetep penuh gairah.
“Algiii, saya keluar Giii. Arrgggggg……… Anda kuat banget sih….. ”kata Risty dengan nada yg agak gak jelas
“Tahan sayang, saya juga ingin keluar…. ” Balas saya, sembari mempercepat lagi genjotan.
“Arrrggh sayang,, arrggghhh.. teruss aargggghh terussss…. ”
Saya rasakan tekanan yang sangatlah kuat dari konti saya, telah tidak dapat ditahan lantaran remasan kenceng dari meki Risty buat konti saya semakin tidak kuat buat berlama-lama serta,
“Aarggggggggggghhh saya keluarr arrrgghhh… ” Jerit Risty bersamaan dengan muncratnya pejuh dari konti saya.
Saya juga sedikit untuk sedikit memelankan genjotan konti saya, sampai saya keluarin konti dari dalam meki Risty. Cocok saya berdiri mendadak Risty megangin konti saya, dilepasnya kondom yang kepasang serta dimasukannya lagi konti saya ke mulutnya. Kesempatan ini saya ngerasa geli bukanlah kepalang, namun juga enak sewaktu yang berbarengan.
Rupanya Risty dengan bekas birahi yang ada bersihkan konti saya dari bekas sperma yang ada. Matanya yang melirik sesekali berupaya menangkap ekspresi muka saya cocok pacar ngehisap setelah konti saya sampai bersih dari pejuh.
“Enak banget deh mempunyai anda, Gi… kuat banget lagi… ” kata Risty sembari selalu mengocok konti saya.
“Punya anda juga kuat juga, Ty… ” Balas saya sembari menundukan tubuh serta mencium bibir mungilnya.
“Nanti saya ingin lagi ya…. ” Kata Risty manja sembari meremas konti saya.
Kemudian, kami teruskan mandi berdua serta mengulangi aktivitas yang sama di kamar mandi serta di kamar tidur Risty hingga tengah malam mendekati. Risty memaksa saya untuk nginep di tempat tinggalnya yang nyatanya memanglah cuma terisi dianya hingga sebagian minggu ke depan lantaran orang tuanya yang bertandang ke tempat tinggal kerabat diluar kota.
Sejak peristiwa ini, saya serta Risty resmi pacaran. Risty yang tampak lugu nyatanya penggemar seks sama seperti seperti saya. Saya bersukur dapat dapet pacar seperti Risty

Incoming search terms:

  • Perawat binal
  • Suster binal
  • cerita dewasa perawat
  • vagina perawat
  • cerita perawat binal
  • birahi suster binal
  • perawat memek
  • cerita ngentot perawat binal
  • mengocok vagina
  • cerita dewasa suster binal

Tags: #cerita mesum #cerita ml #cerita ngentot #cerita porno #cerita sex #daun muda #erita dewasa #terbaru 2016

Tinggalkan pesan "Cerita Dewasa – Mencicipi Vagina Perawat Binal"

Penulis: 
author
nama saya ironika saya lahir november 1994 saya tinggal disuatu kota kecil yang memiliki ompset susu terbaik di negeri ini,saya orang nya suka tertawa dari pada ditertawain orang lain bagi saya sukses itu memerlukan perjuangan bahkan bisa menjadikan kepala jadi kaki kaki jadi kepala yeaaaaaaahhhhhh